Menteri PPN Tekankan Riset Harus Responsif Hadapi Isu Geopolitik Iklim dan Desentralisasi

Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menegaskan bahwa orientasi riset nasional saat ini harus mampu menjawab tantangan perubahan geopolitik, geoekonomi, dampak perubahan iklim, serta dinamika desentralisasi. Langkah ini dinilai strategis agar hasil penelitian dapat memberikan arah yang jelas bagi pembangunan nasional di tengah perubahan global yang cepat. Fokus pada aspek-aspek tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi isu-isu krusial seperti ketahanan pangan, energi, dan air di masa depan.

Menurutnya, riset yang dibutuhkan adalah riset yang mampu menjangkau masa depan. “Indonesia dan dunia saat ini menghadapi perubahan yang luar biasa cepatnya dan luar biasa besarnya,” kata Rachmat, dalam Kick-off Meeting Forum Komunikasi Riset dan Inovasi (FKRI) 2026, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Senin (19/1).

Ia mengatakan persoalan geopolitik dan geoekonomi sangat penting, termasuk dalam penelitian, untuk memberi arah pembangunan nasional.

“Persoalan geopolitik dan geoekonomi ini sangat penting. Penting dalam penelitian untuk memberi arah ke mana pembangunan nasional yang kita harapkan, dan untuk mengetahui posisi kita sekarang ada di mana, dahulu bagaimana, dan ke depan kita harus melakukan apa,” ujarnya.

Perubahan kedua yang disampaikan Rachmat adalah perubahan iklim. Ia mengungkapkan perubahan iklim merupakan persoalan yang telah banyak disadari. “Perubahan iklim ini tidak banyak yang menyangkal. Hanya yang siap saja yang bisa mengatasi persoalan,” katanya.

Rachmat menyebut perubahan iklim yang paling dirasakan saat ini adalah pemanasan global. Dampak perubahan iklim antara lain percepatan emisi karbon, kenaikan suhu, dan kenaikan permukaan air laut. “Mulai dari masalah emisi karbon yang percepatannya sangat tinggi, air laut naik, dan suhu naik,” katanya.

Selain geopolitik dan perubahan iklim, Rachmat juga menyebut desentralisasi sebagai bagian dari perubahan yang dihadapi saat ini. Ia mencontohkan bagaimana sejumlah negara telah lama menyiapkan riset untuk menghadapi perubahan tersebut, termasuk melalui pengembangan teknologi dan pemanfaatan komputasi.

Ia juga menyinggung persoalan pangan, energi, dan air sebagai tantangan yang perlu mendapat perhatian melalui riset. “Pangan, energi, dan air, bagaimana kita mengatasi persoalan tiga hal ini,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Rachmat menyampaikan bahwa arah riset perlu dikaitkan dengan agenda pembangunan nasional yang telah ditetapkan Presiden. “Bapak Presiden sudah menyiapkan Astacita. Kalau kita ingin melakukan riset, riset yang ada, dengan Astacita itu, yang harusnya menjadi arahan ke depan,” katanya.

Ia menggarisbawahi bahwa Kementerian PPN/Bappenas membutuhkan dukungan riset dalam perencanaan pembangunan. “Kepada Kepala BRIN, saya berusaha menitipkan ini (riset), karena Kementerian PPN sangat membutuhkan dukungan dari BRIN,” ujarnya.

Rachmat menyampaikan dirinya berlatar belakang sebagai peneliti dan memahami tantangan profesi tersebut. “Sejak awal, sejak mahasiswa, sejak lulus, sampai hari ini, jiwa saya adalah jiwa peneliti. Dan saya bisa merasakan bagaimana beratnya menjadi peneliti, tapi bagaimana menariknya menjadi peneliti,” tandas Rachmat.

Lewat Perfomance Art ‘Tak Ada Jalan Awal dan Akhir’, Sekar Puspitoayu Sampaikan Kritik Standar Seni dalam Ruang Aman bagi Amatir

Didukung Modal Global dan Data Center, BAPI dan NANO Kembangkan Teknologi Kesehatan dan Pendidikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *