Presiden Toyota Motor Thailand Noriaki Yamashita mengatakan bahwa perusahaannya tetap berkomitmen untuk menjadikan Asia Tenggara sebagai wilayah pengembangan pasar dan pusat manufaktur wilayah.
Untuk itu, ia berharap agar konflik di perbatasan Kamboja-Thailand dapat segera terselesaikan karena dengan adanya konflik ini, pengiriman suku cadang di pusat produksi pabrik Thailand menjadi terhambat.
“Sekarang lewat jalur laut dan suku cadang jadi terganggu pengirimannya dan menambah beban biaya,” kata Noriaki disitat dari Bangkok Post.
Terlepas dari masalah sengketa politik, Toyota Thailand tidak ingin masuk ke wilayah politik tersebut dan lebih menekankan kepada pengembangan sektor otomotif.
Ia menegaskan Asia Tenggara terus menjadi wilayah investasi penting bagi perusahaan Jepang. Ke depan, Toyota memprioritaskan kendaraan listrik hibrida (EV), yang menggabungkan mesin bertenaga bensin dengan kemampuan listrik.
Ia mengatakan bahwa kendaraan hibrida lebih praktis daripada EV yang hanya menggunakan baterai di Thailand, di mana infrastruktur pengisian daya masih terbatas. (FERRY/WE)
