Jika ada satu ruas jalan di Yogyakarta yang sering menguji ketabahan pengendara, sepertinya Babarsari-Seturan wajib masuk daftar paling atas. Bagi penulis, rasanya jalan ini bukan lagi sekadar jalur penghubung kos, kampus, jajanan ataupun tempat cuci mata, melainkan arena penuh kejutan yang terkadang penulis merasa seperti dalam GTA versi lokal chaos, serba mendadak, dan minim aturan tak tertulis, padahal di jalan Babarsari ada pos “polisi”, eh!.
Kemacetan di Babarsari dan Seturan sudah menjadi makanan harian bagi pengendara. Bukan hanya di jam sibuk, bahkan malam hari pun jalanan ini terasa masih padat dan justru semakin malam gemerlap lampu semakin menyala. Banyak pengendara motor bahkan mobil yang sebagian besar dari luar plat AB berhenti sembarangan, parkir di bahu jalan, hingga pengendara yang tiba-tiba memotong tanpa memberi isyarat. Bagi penulis yang mengatur lalu lintas malah kebanyakan anak-anak muda yang justru kata penulis sih, gak berguna. Menambah macet dan chaos!
Bahkan penulis sendiri mengalami langsung situasi yang cukup membahayakan. Saat melintas di area Babarsari, tiba-tiba ada pengendara lain yang sama-sama perempuan nyelonong gak jelas. Membuat penulis tanpa sadar “misuh-misuh” sendiri dan harus mengerem mendadadak. Situasi seperti ini sudah umum terjadi di kawasan tersebut. Ditambah dengan beberapa kejadian keributan dan orang-orang yang berkendara dalam kondisi tidak sepenuhnya sadar, membuat suasana jalan semakin tidak nyaman, terutama bagi pengguna jalan lain yang ingin pulang dengan selamat.
Pengalaman penulis tidak hanya sampai situ saja, saat penulis baru selesai pulagng kerja sekitar pukul 23.30 tampak aparat kepolisian dengan mobil khasnya berjaga di pinggir jalan. Dugaan penulis tentu kalau tidak kecelakaan ya anarkis.
Ironisnya, Babarsari dan Seturan adalah kawasan “elis mahasiswa” dekat dengan kampus ternama, kafe hits yang menjamur, apartemen modern. Jujur saja, menurut penulis julukan “SCBD cabang Jogja” terdengar lebih seperti satire daripada kebanggan. Tidak menutup realita jalanan tersebut sudah seperti jalanan di Ibukota Jakarta.
Pada akhirnya, penulis menyadari berkendara ataupun beraktifitas di Babarsari-Seturan bukan soal kecepatan bukan juga soal mengikuti arus. Penulis belajar, satu-satunya menghadapi “GTA Jogja” versi lokal ini hanyalah dengan banyak tabah, jangan lengah dan tetap makan! Sekian.
