Mana yang Lebih Irit untuk Perantau Yogyakarta, Nasi Padang atau Warteg?

Bagi seorang perantau di Provinsi Istimewa Yogyakarta, seperti penulis ini, persoalan makan bukan semata sekadar selera, melainkan juga strategi untuk bertahan hidup dari hari ke hari. Dengan UMR Jogja yang minimalis seminim dompet di tanggal tua, tentunya memilih tempat makan yang murah plus isinya banyak adalah keberuntungan bagi perantau seperti penulis ini bukan? Apalagi kaum mendang-mending, duh, benar-benar keberuntungan sekali!

Pengalaman penulis soal memilih tempat makan yang murah plus isi banyak tentu sudah cukup banyak, dan menurut penulis nasi Padang justru dinilai lebih hemat dibanding warteg, lah kok bisa? Iya, ini menurut kacamata pandangan penulis sendiri, sih. Meskipun secara umum, warteg tetap menjadi primadona sebagian kalangan rakyat makanan yang murah. Bagi pengalaman penulis, nasi Padang Sederhana atau Padang Murah yang sering ditemukan di pinggir jalan, kawasan mahasiswa, penulis mendapati harga paket nasi, ayam, dan kuah dibarendol mulai 10.000 hingga 12.000. Tentunya, di harga tersebut bisa membuat kenyang dan tetap ramah di kantong.

Sebaliknya, pada warteg, penulis mengalami sistem pembayaran yang tidak terduga. Ini berdasar pengalaman pribadi penulis, seporsi nasi dengan total dua dan tiga lauk sederhana hampir 20.000 an, benar-benar di luar dugaan dan tanpa disadari, yang awalnya penulis ingin berhemat justru ternyata membuat boncos.

Selain harga, kepastian porsi juga menjadi alasan pribadi penulis dalam menilai bahwa nasi Padang lebih murah dibanding warteg. Ketika makan ditempat nasi Padang, pembeli dipersilakan mengambil lauk sendiri, dan nasi sendiri mungkin lebih tepatnya konsep prasmanan, dan juga harga di beberapa tempat nasi Padang sudah terpasang di banner, yang menjadikan acuan penulis untuk memilih lauk mana yang murah dan kenyang tentunya. Berbeda dengan warteg, yang tidak di banderol harga dari awal dan lauk serta nasi tidak bisa mengambil sendiri.

Menariknya, penulis membuat preferensi ini juga di pengaruhi latar belakang pribadi. Sejujurnya, penulis merupakan ORTEGA alias Orang Tegal Asli, daerah yang menjadi pusatnya warteg diseluruh Indonesia Raya. Namun demikian, secara selera untuk di perantauan, penulis tidak cocok dengan warteg dan tetap memilih nasi Padang dengan cita rasa kuahnya yang kental dan menurut penulis lebih mengenyangkan. Tapi, bukan berarti penulis tidak menyukai masakan Tegal, justru penulis merindukan “Pongset” yang bagi penulis itulah makanan Tegal asli dibanding Warteg yang sekadar franchise dan kurang rasa “Tegal” bangetnya bagi penulis.

Meski demikan, penulis menekankan prefensi penulis dan pilihan selera makan ini bukanlah penilaian yang mutlak yang bisa di gepuk sama rata. Warteg tetap memiliki cita rasa sendiri dan memiliki tempat tersendiri di sebagian orang, baik dari sisi pilihan menu, dan variasi rasa. Kembali lagi pada pilihan para peranatau entah dimanapun, baik di Yogyakarta Istimewa ini maupun di kota lain, tentunya tetap memilih alternatif menu makan hemat, murah, kenyang, dan praktis! Oh iya, tambahan dari penulis lagi, tentu masakan sendiri atau justru masakan ibu lebih nikmat tiada tara. Betul bukan?

Inovasi Layanan Publik Digital Antarkan Menkomdigi Raih OPSI KIPP 2025

Pertamina Patra Niaga Lakukan Pemulihan Kebutuhan LPG di Wilayah Aceh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *