Di tengah iklim kreatif yang sering menuntut kesempurnaan sejak langkah pertama berproses, keberanian untuk memulai justru kerap luput dari penghargaan.
Banyak individu memulai berkarya dengan semangat dan kejujuran, namun harus berhadapan dengan standar kolektif yang ketat serta penilaian yang hadir terlalu cepat.
Dalam konteks inilah, performance dari Sekar Puspitoayu pada acara perilisan zine S3xpopuli hadir sebagai refleksi kritis.
Ia mempertanyakan apakah ruang aman benar-benar tersedia bagi para amatir yang baru saja memulai perjalanan kreatifnya.
Pada acara tersebut, Sekar menampilkan sebuah performance yang tidak hanya menjadi hiburan, melainkan sebuah pernyataan.
Melalui tubuh, suara, dan gestur yang jujur, ia menghadirkan sosok amatir atau individu yang berada di titik paling awal proses berkarya.
Sosok yang belum sepenuhnya cakap dan belum rapi, namun telah berani mengambil langkah pertama berkarya.
Dalam performance ini, amatir tidak diposisikan sebagai sesuatu yang kurang atau gagal.
Sebaliknya, ia digambarkan sebagai fase yang paling rentan sekaligus paling berani.
Saat seseorang baru memulai berkarya, keberanian itu sendiri sudah merupakan sebuah pencapaian.
Namun, keberanian tersebut seringkali berbenturan dengan standar kolektif dan estetika masyarakat yang begitu ketat, seolah karya hanya pantas hadir jika telah mencapai sempurna. Tanpa disadari, masyarakat lebih mudah memberi penilaian daripada menyediakan ruang.
Karya-karya pemula kerap langsung dihakimi, terlalu kasar, belum matang, atau tidak sesuai selera.
Penilaian yang datang terlalu cepat ini perlahan menumbuhkan ketakutan. Individu mulai ragu untuk melanjutkan, takut berbuat salah, dan takut dianggap tidak pantas untuk berkarya.
Keraguan itu pada akhirnya menenggelamkan banyak potensi.
Amatir yang semula berani, perlahan memilih diam atau berhenti berproses.
Bukan karena tidak mampu, melainkan karena tidak menemukan ruang aman untuk bertumbuh, ruang di mana kesalahan dimaklumi, proses dihargai, dan percobaan tidak langsung diadili.
Lalu, apakah ruang aman bagi amatir benar-benar ada? Pertanyaan ini menggantung dalam performance Sekar Puspitoayu.
Hingga hari ini, ruang-ruang semacam itu masih langka, bahkan nyaris tak terlihat. Yang lebih sering hadir justru tuntutan untuk langsung siap, langsung cakap, dan langsung sempurna.
Di tengah kondisi tersebut, performance ini menjadi sebuah pengingat bagi kita sebelum menuntut kualitas, barangkali yang paling dibutuhkan adalah ruang, ruang aman bagi mereka yang baru berani memulai.
